Pembicara

- Posted by

 
Ary S. Suhandi   Shana Fatina
Indonesia Ecotourism Network (Indecon)   Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo (BOPLB)
Ary telah banyak menginisiasi pengembangan pariwisata alam di Indonesia sejak 1987. Dalam dua dekade karirnya, Ary telah banyak mengembangkan dan mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan ekowisata, serta program edukasi konservasi di berbagai tempat di Indonesia. Dia juga pernah menjadi komite seleksi untuk penghargaan pariwisata di tingkat internasional dan nasional seperti dari National Geographic Travelers (USA) dan the World Travel and Tourism Council (UK). Sebelumnya aktif sebagai pemandu, Ary juga pernah mengelola Indonesia Ecoventure, sebuah biro perjalanan wisata untuk paket wisata observasi alam, budaya, pariwisata masyarakat, dan ekowisata. Sebagai salah satu pendiri Indecon, saat ini dia menjabar sebagai Ketua dan ketua tim; sekaligus seringkali memberikan dukungan rekomendasi bagi Kementerian Pariwisata. Saat ini, Ary juga berperan sebagai salah satu Wakil Ketua Asian Ecotourism Network (AEN).   Shana Fatina Sukarsono, born in California, USA, October 29, 1986, Shana passed her chilhood to her teens with a myriad of activities and achievements. In 2004 Shana completed her education at SMA 8 Jakarta. She continued her education at ITB (Bandung Institute of Technology) and served for ITB Student Union, President 2008-2009 (1st Woman President in national student council history). Not only that, she graduated as a Bachelor of Science, Industrial Enginering with title CUM LAUDE in 2009. Her interest and love for Labuan Bajo began in 2010 as she carried out a Jakarta-Larantuka roadtrip by driving a car. In the middle of the trip she stopped by Labuan Bajo and feel touched to see the people living in the Komodo National Park area who had to struggle to get clean and hygiene water. She then returned to Jakarta. But as she remember of what she saw while in Labuan Bajo, young Shana then returned to this west part of Flores Island. But this time she came with the community on the island of Papagarang to built a distillery clean water. This later became the beginning of her decision to finally stay in Labuan Bajo. For her, the world of tourism has its own allure, because it provides very high added value without having to damage the environment. Shana Fatina Sukarsono is currently the co-funder and CEO of PT. Tinamitra Nusantara Mandiri and PT. Indonesian Intermega Sabaku which engaged in energy and procurement for clean water.
 
Panot Pakungsup   Pemkab Ngada
Planeterra Foundation   Pemerintah Kabupaten Ngada
Panot or “Tung” is the Asia Field Manager, Planeterra Foundation a partner with G Adventures. With roles and responsibilities to work with local communities to develop SE Social Enterprise projects in SEA and Japan. His work experienced in tourism dated since 2005 from a local tour operator “Tour Merng Tai” and a partners with CBTi “The Thailand Community Based Tourism Institute”, which supports and works with many CBTs in Thailand. 2016 Being volunteer as President of TRTA Thai Responsible Tourism Association with members to develop “The Thai Responsible Tourism project” among many different stakeholders in Thai tourism industry.   N/A
 
Sugeng Handoko   Hermas R. Maring
Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta   Heart of Borneo, WWF
Penggerak Pariwisata asal Desa Nglanggeran, Kebaupaten Gunung Kidul, D.I. Yogyakarta ini aktif dalam organisasi kepemudaan dan sociopreneur sejak tahun 2007 dan aktif sebagai penggerak CBT. Dia adalah pelopor sekaligus pengelola Gunung Api Purba Nglanggeran dan Desa Wisata Nglanggeran. Karena aktif dalam pengembangan pariwisata di kawasannya, pada tahun 2016 menerima penghargaan CBT Asean, pemenang Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2017, dan penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award (ASTA) 2018.
  Ialah penggagas ekowisata Kapuas Hulu dan pendiri Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH) pada tahun 2005. KOMPAKH merupakan “induk” dari setidaknya lebih dari 10 kelompok ekowisata ditingkat desa di kawasan Kapuas Hulu. Sejak tahun 2010, Hermas menjadi vocal point dan penggerak kolaborasi para pihak (pemerintah, masyarakat dan NGO) untuk isu ekowisata berbasis masyarakat di Kapuas Hulu. Pada tahun 2005-2016, ia menjabat sebagai Ecotourism development di WWF-Indonesia. Tahun 2015-2016 aktif sebagai fasilitator lokal Destination Development Organization (DMO) kementerian Pariwisata Indonesia.
 
Juan Kartika Sitepu   Prachyakorn Chaiyakot (Ph.D)
Lembaga Pariwisata Tangkahan   Thai Responsible Tourism Association (TRTA)
Lahir di Binjai 17 Oktober 1977, pendidikan terakhir STM , Mulai bergabung Dengan Lembaga Pariwisata Tangkahan Sejak Tahun 2003 sebagai anggota Divisi SAR Departemen Takasima Ranger, jabatan yg pernah di emban didalam keorganisasian Lembaga Pariwisata Tangkahan: ketua Divisi SAR 2003-2004 , Kordinator Takasima Ranger 2004 – 2007, Kord BUML, 2007-2010, Ketua LPT 2018- s/d Sekarang, Jabatan di luar Keorganisasian LPT, Direktur PT Rimba Lestari Tour dari 2012 – s/d Sekarang, aktif sebagai Pemandu wisata di Tangkahan 2010 s/d sekarang   Adalah seorang pengajar di Universitas Hatyai, Hatyai, Songkhla, Thailand dimana dia mengajar dan meneliti pariwisata berbasis masyarakat (CBT). Dia lulus dari Universitas Prince Songkla sebagai Doktor kantor otoristas pariwisata Thailand di Bangkok dan menjadi pengajar di tanah airnya.
Saat ini meneliti pariwisata berbasis masyarakat di Thailand yang didanai oleh Thailand Research Fund (TRF) dan bekerja sebagai presiden Thai Responsible Tourism Association (TRTA).
 
Martinus Anggo  
Waerebo Cultural Preservation Board (LPBW)  
Lahir di Manggarai tahun 1969. Sebagai penasehat dalam Lembaga Pelestari Budaya Waerebo yang pernah belajar sampai perguruan tinggi. Sudah berkeluarga dan memiliki 3 putri. Selain memiliki kebun kopi juga memiliki usaha penginapan di Dinthor.Berharap masyarakat Waerebo bisa menjadi subyek dalam pengembangan pariwisata Waerebo dan bisa menjadi alternatif alat untuk pengembangan ekonomi masyarakat.