The Travel & Tourism Competitiveness Report 2017

Posted on

World Economic Forum (WEF) kembali membuat analisis mendalam terhadap daya saing pariwisata dan perjalanan terhadap 136 negara di seluruh dunia. Tema dari edisi ini adalah “Membuka Jalan bagi Masa Depan yang lebih Berkelanjutan dan Inklusif”, meningkatkan fokus dalam memastikan pertumbuhan industri yang berkelanjutan dalam keamanan lingkungan yang tidak menentu sambil menjaga lingkungan alam dan masyarakat setempat yang bergantung. Ada 4 fokus penilaian yang dilakukan oleh WEF yaitu lingkungan yang mendukung, kebijakan pariwisata&perjalanan dan kondisi yang mendukung, infrastruktur, sumberdaya alam dan budaya. Dari keempat penilaian tersebut masih dijabarkan lagi menjadi 14 indikator penilaian. Lalu bagaimana posisi Indonesia berdasarkan penilaian tersebut?

Di tahun 2017 ini, Indonesia menduduki peringkat ke-42 dengan skor 4.16 yang artinya naik 8 peringkat dari tahun 2015. Ini merupakan bukti yang cukup baik untuk pengembangan pariwisata Indonesia. Indonesia telah berhasil membuat sebagian besar sumber daya alamnya diakui secara global (peringkat 14, skor 4.75) dengan harga yang sangat terjangkau (peringkat 5, skor 6.00). Untuk membangun asset pariwisata, Indonesia telah menekankan sumber daya budaya (peringkat 23, skor 3,28) dan memprioritaskan sektor pariwisata dan perjalanan sebagai pendorong penting pengembangan ekonomi. Indonesia telah lebih meningkatkan keterbukaan internasional (rangking 17, naik 38 posisi), menjadi negara dengan kebijakan visa terkuat kedua. Jumlah wisatawan internasional sebanyak 10,406,759 wisatawan dengan pendapatan US$10.761,0 juta. PDB industri pariwisata dan perjalanan adalah sebesar US$ 28,208.9 juta dan ada sebanyak 3.468.400 pekerjaan di sektor pariwisata. Sehingga saat ini pariwisata mewakili 6% dari ekspor negara, pemerintah mengakui potensi pariwisata dan perjalanan dan menginvestasikan sekitar 9% dari anggaran Negara untuk sektor pariwisata.

Indonesia juga memperluas lebih lanjut penawaran dan promosi sumber daya alam dengan meningkatkan luas area kawasan lindung dan lebih menarik minat online di kegiatan alam. Namun, perlindungan lingkungan yang lebih baik masih menjadi tugas besar untuk pengembangan berkelanjutan. Dalam keberlanjutan lingkungan ini, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-131 dari 136 negara dengan skor 3.25. Sebagai rumah dari sebagai besar habitat keanekaragaman hayati di dunia, Indonesia harus mengatasi diforestasi (peringkat 113), pengolahan limbah (peringkat 109), menambah daftar spesies yang terancam (peringkat 127). Indonesia juga perlu fokus pada peningkatan infrastruktur pelayanan pariwisata (peringkat 96), dengan ketersediaan kamar hotel yang masih rendah (peringkat 93).

Kombinasi antara pengembangan dan keberlanjutan lingkungan merupakan kunci untuk keberhasilan masa depan sektor pariwisata dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh karena, perlu adanya penguatan keterlibatan semua pihak dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan baik pihak pemerintah, pelaku usaha pariwisata swasta, dan masyarakat. Mari membangun pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Informasi selengkapnya ada dapat mengunduh laporan daya saing perjalanan dan pariwisata 2017.